Sekilas Tentang Corporate Sosial Responsibility

Dalam melaksanakan seluruh aktivitas bisnis, perusahaan harus berperilaku etis terhadap internal perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Perilaku etis tersebut terkait dengan konsep Triple Bottom Lines yang banyak dianut oleh perusahaan. Pada tahun 1988 John Elkington memperkenalkan konsep Triple Bottom Line (TBL atau 3BL).[1] Triple Bottom Lines ini juga disebut dengan 3P yang terdiri dari  People, Planet dan Profit yang menekankan pada ;[2]

People menekankan pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung kepentingan tenaga kerja. Lebih spesifik konsep ini melindungi kepentingan tenaga kerja dengan menentang adanya eksploitasi yang mempekerjakan anak di bawah umur, pembayaran upah yang wajar, lingkungan kerja yang aman dan jam kerja yang dapat ditoleransi. Bukan hanya itu, konsep ini juga meminta perusahaan memperhatikan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja.

Planet menekankan pada pengelolaan dengan baik penggunaan energi terutama atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Mengurangi hasil limbah produksi dan mengolah kembali menjadi limbah yang aman bagi lingkungan, mengurangi emisi CO2 ataupun pemakaian energi, merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah menerapkan konsep ini.

Profit menekankan lebih dari sekadar keuntungan. Profit di sini berarti menciptakan fair trade dan ethical trade dalam berbisnis.

<

Ketiganya, people, planet dan profit ini merupakan kunci untuk keberhasilan suatu perusahaan. Ketiga hal ini merupakan kunci yang harus dipegang oleh perusahaan agar dapat meraih kesuksesan dan keberlanjutan kegiatan bisnisnya.  Perilaku etis yang terkait dengan konsep 3P tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kontribusi nyata kepada internal ataupun eksternal perusahaan. Salah satu wujud kontribusi tersebut adalah pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).

CSR menurut The World Business Council for Sustainable Development :

“Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community at large.”[3]

 

CSR merupakan komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberikan kontribusinya bagi pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan di internal perusahaan yang terdiri dari para karyawan beserta keluarganya baik secara komunitas lokal maupun masyarakat luas pada umumnya.

Sedangkan menurut ISO 26000 Guidance on Social Responsibility :

Responsibility of an organization for the impact of its decisions and activities on society ad the environment through transparent and ethical behavior that is consistent with sustainable development and welfare of society; takes into account the expectation of stakeholders; is in compliance with applicable law and consistent international norms of behavior; and is integrated throughout the organization. [4]

 

CSR adalah tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dalam organisasi secara menyeluruh.

Menurut Lingkar Studi CSR Indonesia.[5] CSR adalah upaya sungguh sungguh dari entitas bisnis meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif operasinya terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Dampak positif yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan terhadap stakeholder bidang ekonomi, sosial, maupun lingkungan harus dimaksimumkan. Hal tersebut harus dilakukan untuk mensejahteraan masyarakat dan melestarikan lingkungan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Sebab dengan berkelanjutan, generasi mendatang diharapkan dapat terus menikmati sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini. Generasi mendatang dapat menikmati sumber daya alam tersebut berkat kerja keras dan upaya yang diusahakan melalui CSR ini. Demikian juga dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh perusahaan, sedapat mungkin untuk diminimalisir. Tujuannya adalah agar tidak merugikan berbagai pihak terutama masyarakat. Kerugian tersebut baik  terhadap kehidupan sosial masyarakat maupun dampak dari kerusakan lingkungan.

Sedangkan menurut Yayasan Indonesia Business Links (IBL) yang aktif menjadi media promosi CSR. Yayasan ini juga mengemukakan pendapatnya mengenai konsep CSR. Menurut IBL,[6] CSR adalah upaya manajemen yang dijalankan oleh entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan, dengan meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak postif disetiap pilar –masih tak lepas dari kerancuan konsep, pengistilaan, maupun penerapannya.

Dilihat dari beberapa definisi mengenai CSR, maka jelaslah bahwa CSR merupakan upaya untuk mengembangkan praktik berbisnis yang etis serta berkesinambungan baik secara ekonomi, sosial maupun lingkungan. Di samping upaya tersebut, tujuan CSR adalah untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif bagi perusahaan, masyarakat maupun lingkungan.

Perilaku etis yang dilakukan oleh perusahaan melalui CSR ini, dapat diwujudkan melalui berbagai  jenis program CSR. Menurut Kotler dan Lee ada enam kategori aktivitas CSR, yaitu :[7]

1. Promosi Kegiatan Sosial (Cause promotions)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan menyediakan dana atau sumber daya lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap suatu kegiatan sosial atau untuk mendukung pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat atau perekrutan tenaga sukarela untuk kegiatan tertentu. Fokus utama kategori aktivitas CSR ini adalah komunikasi perusasif dengan tujuan menciptakan kesadaran (awareness) serta perhatian terhadap suatu masalah sosial.

2. Pemasaran Terkait Kegiatan Sosial (Cause Related Marketing)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan memiliki komitmen untuk menyumbangkan presentase tertentu dari penghasilannya untuk suatu kegiatan sosial  berdasarkan besarnya penjualan produk.

3.Pemasaran Kemasyarakatan Korporate (Corporate Societal Mareketing)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan mengembangkan dan melaksanakan kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tujuan untuk meningkatakan kesehatan dan keselamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup serta meningkatakan kesejahteraan masyarakat.

4. Kegiatan Filantropi Perusahaan (Corporate Philanthropy)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan memberikan sumbangan langsung dalam bentuk derma untuk kalangan masyarakat tertentu. Sumbangan tersebut dapat berupa pemberian uang secara tunai, bingkisan/paket bantuan dan pelayanan cuma-cuma.

Kegiatan Filantropi Perusahaan ini biasanya berkaitan dengan kegiatan sosial yang menjadi prioritas perhatian perusahaan. Program-program Coprorate Philantropy yang dilaksanakan perusahaan, diantaranya : program Coprorate Philantropy dalam bentuk sumbangan uang tunai, dalam bentuk bantuan hibah, penyediaan beasiswa, pemberian produk dan sebagainya.

5. Pekerja Sosial Kemasyarakatan Secara Sukarela (Community Volunteering)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahaan mendukung serta mendorong para karyawan dan rekan pedagang eceran, atau para pemegang franchise agar menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membatu organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.

6. Praktika Bisnis yang Memiliki Tanggung Jawab Sosial ( Social Responsible Business Practice)

Dalam aktivitas CSR ini, perusahan melaksanakan aktivitas bisnis melampaui aktivitas bisnis yang diwajibkan oleh hukum serta melaksanakan investasi yang mendukung kegiatan sosial dengan tujuan meningkatakan kesejahteraan komunitas dan memelihara lingkungan hidup.


[1] Neviana, “Triple Bottom Line: Lebih dari Sekadar Profit”, dalam  http://swa.co.id/2010/10/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit/
[2] Neviana, “Triple Bottom Line: Lebih dari Sekadar Profit”, dalam  http://swa.co.id/2010/10/triple-bottom-line-lebih-dari-sekadar-profit/
[3] Edi, Corporate Social Responsibility : Konsep dan Perkembangan Pemikiran,  makalah pembicara dalam workshop Tanggung jawab Sosial Perusahaan, dilaksanakan di Yogyakarta 6-8 Mei 2008, dalam http://pusham.uii.ac.id/upl/article/id_edi_s.pdf. diakses tanggal 17 Mei 2010.

[4] Nursaid, Definisi ISO 2600 (23 Juli 2007), dalam “CSR bidang Kesehatan dan Pendidikan: Mengembangkan Sumber Daya Lingkungan”, (Jakarta : Yayasan Indonesia Bussines Links, 2008), hal. IX.

[5] Tim PKBL PPA, “Dampak Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) menurut Pasal 74 UU PT No. 40/2007 Terhadap Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)–BUMN”, dalam http://pkbl.bumn.go.id/file/PPA-Presentasi%20CSR%20draft.ppt.\\

[6] Amri, Mulya dan Wicaksono Sarosa, “CSR untuk Penguatan Kohesi Sosial”. (Jakarta : Yayasan Indonesia Bussines Links, 2008), hal. ix.

[7] Kartini, “Corporate Social Responsibility : Transformasi konsep Sustainability Management dan Implementasi di Indonesia”, (Bandung : Refika Aditama, 2009), hal. 62-78.

About Rist

Hi, my name Risti. I am Indonesian. I really love travelling, writing, reading, painting, social science, sunset, and blue sky. Thank you for visiting my blog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: